Rabu, 16 Januari 2013

Mengapa pembinaan/kaderisasi?


Kaderisasi pasti bukan suatu hal baru dalam keberlangsungan kita. Tapi mungkin banyak yang masih bertanya- tanya kenapa harus ada kaderisasi dalam setiap organisasi?  Sebegitu pentingkah kaderisasi untuk organisasi?

Kaderisasi dalam suatu organisasi bisa diibaratkan sebagai jantung dalam tubuh. Jantung adalaah organ yang begitu central dalam keberlangsungan hidup, menyalurkan dan menjadi penopang. Begitu pula kaderisasi dalam organisasi. Rasanya sulit dibayangkan organisasi tanpa kaderisasi dapat berjalan dengan efisein atau bahkan dapatkah hidup?. Mengutip perkataan Bung Karno “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam”. Ya tentu proses ini dilakukan sejak dulu kala, dan dari kalimat tersebut kita bisa sama- sama menyamakan persepsi bahwa tujuan kaderisasi adalah menyiapkan kader- kader tangguh para calon pemimpin bangsa di masa depan. Ini merupakan hal yang benar- benar harus mendapatkan perhatian tersendiri, karena tanpa proses kaderisasi yang kita lakukan, secara tidak langsung sama saja kita telah memotong tongkat estafet yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu kita. Dan untuk menguatkan gerakan perubahan yang dikehendaki tentu sebuah tempat atau wadah yang memberikan pembinaan dan pengkaderan.


Begitu pula pada jalan dakwah ini. Jalan dakwah, ujar Syaikh Musthafa Masyhur, adalah jalan yang panjang. Ia bukan jalan yang dipenuhi dengan harum dan warna-warni bebungaan, namun ia adalah jalan yang penuh dengan duri kesulitan dan kesakitan. Inilah kerja pewarisan, karena ia tak bisa diselesaikan dalam satu generasi saja, namun berlanjut hingga ke generasi setelahnya, hingga akhir zaman ini datang Dalam perjalanan menuju kearah tujuan pun, takkanlah berjalan mulus.
Dalam proses munuju kemenagann dakwah kampus, Proses kaderisasi berada pada garda terdepan yang langsng berhadapan dengan segala keluh kesah kampus yang harus diselesaikan. Diselesaikan bukan hanya dalam 1 generasi, melainkan sebuah pewarisan yang harus terus diturunkan. 

“Sarana paling berbahaya yang dipergunakan untuk melumpuhkan gerakan Islam pada umumnya adalah sarana internal, yaitu dengan cara menyulut perbedaan pendapat, permusuhan, menanam benih- benih penyakit, serta melontarkan berbagai slogan, ide, gagasan yang menarik. Untuk menghadapi semua ini pada masa sekarang, tidaklah bisa diterima sikap mengganggap enteng musuh serta menghadapinya dengan cara sporadic emosional. Sebaliknya kita harus berinteraksi dan berkenalan dengannya, menggunakan prinsip melemahkan kemudian mengukuhkan. (robohnya dakwah di tanggan dai, Fahi Yakan)

Seeabagimana dalam sebuah buku berjudul “menuju kemenangan dakwah kampus” Untuk mencapai cita- cita mulia itu tidaklah mudah, tak ada kata instan untuk mencapainya. Seuma butuh proses dan tahapan menuju kampus impian. perbaikan kader internal merupakan tahap pertama dalam proyek tersebut karena “kemenangan DK hanya akan terwujud oleh perbaikan internal DK yang berdaya.
Dari terciptanya kader yang berdaya tentu akan menopang pergerakan itu sendiri, karena SDM adalah suatu tuntutan hal yang tak bisa dielakkan dari sebuah organisasi.
Sebuah kerja nyata diperlukan disini untuk bersama membangun kampus impian dan bahkan Indonesia yang lebih baik.
Pengkaderan itu pasti, pemberdayaan terhadap mahasiswa atau masyarakat itu harus.

Setelah sama- sama kita mengetahui tentang pentingnya pembinaan, skrang pertanyaan yang muncul adalah lalu bagaimana kita memberdayakan kader- kader, atau bagaimna kita melakukan tugas kaderisasi dengan baik dan mampukah kita melanjutkan tongkat estafet ini?.
Sebuah jawaban itu tentulah relative, karena proses pengkaderan yang baik tentu harus mempertimbangkan kondisi dan keadan dari kader yang tersedia, Hal ini bisa dilakukan dengan mengklasifikasikannya dalam tingkatan- tingkatan seperti kader mula, kader muda, dan  kader madya, 
Tapi suatu hal yang harus diyakini  bahwa seorang kader adalah orang yang siap dibina dan membina. Maka tak ada alasan bagi kita untuk menolak sebuah pengkaderan.
Pembina atau pengkader juga harus dibekali pebekalan yang cukup, guna menciptakan kader- kader yang berkualias.
“Sebuah pemikiran dapat diwujudkan jika tersedia keyakinan kuat padanya, keikhlasan dalam berjuang, gelora semangat yang terus bertambah, serta kesiapan beramal dan berorban guna mewujudkannya”
5 modal utama yakni
KEIMANAN
KEIKHLASAN
SEMANGAT
AMAL
Dan BERKORBAN

5 hal itu adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh para kader untuk mendapatkan pembinaan dan sampai nantinya memberikan pembinaan sebagaimana hakikat dari kader yakni siap dibina dan membina. 5 modal utama yang tent diperlukan untuk mencapai kampus impian.
“Sebuah pengibaratan bila kita melap sebuah meja kotor dengan lap yang kotor, tentu meja tersebut takkan bersih. Namun berbeda bila kita lap dengan kain bersih.”

#Hal kongkrit dalam proses kaderisasi, ya membina ^_^, Karena membina bukan pilihan, tapi suatu keharusan ^^ So, yuk membina...
Sumber Referensi
Dakwatuna.com
Atian, Ahmad. 2010. Menuju Kemenangan Dakwah Kampus. Surakarta. Era Adicitra Inter Media.
Hamid, Abdul Al-Bilali. 2010. Problem dan Solusi Kaderisasi. Surakarta. Era Adicitra Inter Media.

0 komentar:

Posting Komentar