Kaderisasi
dalam suatu organisasi bisa diibaratkan sebagai jantung dalam tubuh. Jantung
adalaah organ yang begitu central dalam keberlangsungan hidup, menyalurkan dan
menjadi penopang. Begitu pula kaderisasi dalam organisasi. Rasanya sulit
dibayangkan organisasi tanpa kaderisasi dapat berjalan dengan efisein atau
bahkan dapatkah hidup?. Mengutip perkataan Bung Karno “Bahwa kaderisasi sama
artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan,
pemimpin pada masanya harus menanam”. Ya tentu proses ini dilakukan sejak dulu kala,
dan dari kalimat tersebut kita bisa sama- sama menyamakan persepsi bahwa tujuan
kaderisasi adalah menyiapkan kader- kader tangguh para calon pemimpin bangsa di
masa depan. Ini merupakan hal yang benar- benar harus mendapatkan perhatian
tersendiri, karena tanpa proses kaderisasi yang kita lakukan, secara tidak
langsung sama saja kita telah memotong tongkat estafet yang telah diperjuangkan
oleh para pendahulu kita. Dan untuk menguatkan gerakan perubahan yang
dikehendaki tentu sebuah tempat atau wadah yang memberikan pembinaan dan
pengkaderan.
Begitu
pula pada jalan dakwah ini. Jalan dakwah, ujar Syaikh Musthafa Masyhur, adalah
jalan yang panjang. Ia bukan jalan yang dipenuhi dengan harum dan warna-warni
bebungaan, namun ia adalah jalan yang penuh dengan duri kesulitan dan
kesakitan. Inilah kerja pewarisan, karena ia tak bisa diselesaikan dalam satu
generasi saja, namun berlanjut hingga ke generasi setelahnya, hingga akhir
zaman ini datang Dalam perjalanan menuju kearah tujuan pun, takkanlah berjalan mulus.
Dalam proses munuju kemenagann dakwah kampus, Proses kaderisasi
berada pada garda terdepan yang langsng berhadapan dengan segala keluh kesah
kampus yang harus diselesaikan. Diselesaikan bukan hanya dalam 1 generasi,
melainkan sebuah pewarisan yang harus terus diturunkan.
“Sarana paling berbahaya yang dipergunakan untuk melumpuhkan
gerakan Islam pada umumnya adalah sarana internal, yaitu dengan cara menyulut
perbedaan pendapat, permusuhan, menanam benih- benih penyakit, serta
melontarkan berbagai slogan, ide, gagasan yang menarik. Untuk menghadapi semua
ini pada masa sekarang, tidaklah bisa diterima sikap mengganggap enteng musuh
serta menghadapinya dengan cara sporadic emosional. Sebaliknya kita harus
berinteraksi dan berkenalan dengannya, menggunakan prinsip melemahkan kemudian
mengukuhkan. (robohnya dakwah di tanggan dai, Fahi Yakan)
Seeabagimana dalam sebuah buku berjudul “menuju kemenangan dakwah kampus”
Untuk mencapai cita- cita mulia itu tidaklah mudah, tak ada kata instan untuk
mencapainya. Seuma butuh proses dan tahapan menuju kampus impian. perbaikan
kader internal merupakan tahap pertama dalam proyek tersebut karena “kemenangan
DK hanya akan terwujud oleh perbaikan internal DK yang berdaya.
Dari terciptanya kader yang
berdaya tentu akan menopang pergerakan itu sendiri, karena SDM adalah suatu
tuntutan hal yang tak bisa dielakkan dari sebuah organisasi.
Sebuah kerja nyata diperlukan
disini untuk bersama membangun kampus impian dan bahkan Indonesia yang lebih
baik.
Pengkaderan itu pasti,
pemberdayaan terhadap mahasiswa atau masyarakat itu harus.
Setelah sama- sama kita
mengetahui tentang pentingnya pembinaan, skrang pertanyaan yang muncul adalah
lalu bagaimana kita memberdayakan kader- kader, atau bagaimna kita melakukan
tugas kaderisasi dengan baik dan mampukah kita melanjutkan tongkat estafet ini?.
Sebuah jawaban itu tentulah
relative, karena proses pengkaderan yang baik tentu harus mempertimbangkan
kondisi dan keadan dari kader yang tersedia, Hal ini bisa dilakukan dengan mengklasifikasikannya dalam tingkatan- tingkatan seperti kader mula, kader muda, dan kader madya,
Tapi suatu hal yang harus
diyakini bahwa seorang kader adalah
orang yang siap dibina dan membina. Maka tak ada alasan bagi kita untuk menolak sebuah pengkaderan.
Pembina atau pengkader juga
harus dibekali pebekalan yang cukup, guna menciptakan kader- kader yang
berkualias.
“Sebuah pemikiran dapat
diwujudkan jika tersedia keyakinan kuat padanya, keikhlasan dalam berjuang,
gelora semangat yang terus bertambah, serta kesiapan beramal dan berorban guna
mewujudkannya”
5 modal utama yakni
5 modal utama yakni
KEIMANAN
KEIKHLASAN
SEMANGAT
AMAL
Dan BERKORBAN
5 hal itu adalah hal mutlak
yang harus dimiliki oleh para kader untuk mendapatkan pembinaan dan sampai
nantinya memberikan pembinaan sebagaimana hakikat dari kader yakni siap dibina
dan membina. 5 modal utama yang tent diperlukan untuk mencapai kampus impian.
“Sebuah pengibaratan bila kita
melap sebuah meja kotor dengan lap yang kotor, tentu meja tersebut takkan
bersih. Namun berbeda bila kita lap dengan kain bersih.”
#Hal kongkrit dalam proses kaderisasi, ya membina ^_^, Karena membina bukan pilihan, tapi suatu keharusan ^^ So, yuk membina...
Sumber Referensi
Dakwatuna.com
Atian, Ahmad. 2010. Menuju Kemenangan Dakwah Kampus. Surakarta. Era Adicitra Inter Media.
Hamid, Abdul Al-Bilali. 2010. Problem dan Solusi Kaderisasi. Surakarta. Era Adicitra Inter Media.
Atian, Ahmad. 2010. Menuju Kemenangan Dakwah Kampus. Surakarta. Era Adicitra Inter Media.
Hamid, Abdul Al-Bilali. 2010. Problem dan Solusi Kaderisasi. Surakarta. Era Adicitra Inter Media.














0 komentar:
Posting Komentar