Minggu, 17 Februari 2013

Mahasiswa Sebagai Penggores Tinta Emas Perjuangan



Mahasiswa tentu kata yang dekat dengan kita. Karena mahasiswa adalah "aku". Definisi mahasiswa diambil dari suku kata pembentuknya. Maha dan Siswa, atau pelajar yang paling tinggi levelnya. Tentunya sebagai seorang pelajar tertinggi, mahasiswa sudah terpelajar, sebab mahasiswa telah melalui proses pendewasaan yang tinggal menyempurnakan pembelajarannya hingga menjadi manusia terpelajar yang paripurna. Lalu apa sebenarnya tujuan mahasiswa? apa sebenarnya harapan dari pelajar tertinggi itu? Tentu seorang mahasiswa diharapkan menguasai konsep dari pembelajaran yang dipilih, mengaplikasikan serta  mengembangkannya. Namun jangan lupakan pula peranan mahasiswa dalam pergerakan bangsa ini. Mahasiswa berperan sebagai agent of change, social control serta iron stock yang sangat berpengaruh untuk perubahan Indonesia tercinta ini. 


Beribacara tentang Indonesia, Indonesia adalah negeri yang begitu indah,  negeri yang tatkala itu disebut sebagai syurganya dunia oleh president mesir. Negeri yang terkenal dengan sopan santun dan gotong royongnya. Negri yang tulus, luhur dan penuh suka cita. Negri yang kaya akan flora dan faunanya. Serta negri yang begitu subur. Sebagaimana mengutip dari lirik lagu KoesPloes bahwa ini lautan bukan kolam susu kain dan jala saja cukup tuk hidupimu. Sepenggal lirik yang menandakan begitu indahnya negri ini. Namun, itu hanya sebuah kisah masa lalu. Kini ibu kita pertiwi tengah menangis menyaksian negeri ini. Sungguh ironis ketika menyaksikan tawuran pelajar yang merajalela, atau kasus korupsi yang tak kunjung- kunjung usai. Lalu sekarang pertanyaannya, siapakah yang mampu menghapuskan air mata ibu pertiwi? Tidak lain dan tidak bukan adalah kita kawan. Kita sebagai pemuda (mahasiswa) yang mampu mengubahnya. Sebagaimana jargon yang tak asing lagi  di telinga kita “Jika bukan kita siapa lagi? Siapa lagi jika bukan kita?”
Karena kaum muda Indonesia (khususnya mahasiswa) adalah masa depan bangsa. Nilai suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas pemuda (mahasiswa) nya. Jika pemuda nya baik, maka baik pulalah negaranya, dan begitu pula sebaliknya. Karena pemuda (mahasiswa) adalah pilar kebangkitan bangsa.
Sebuah adat yang selalu lahir dari kata mahasiswa. Suatu ciri khas yang dimiliki oleh kaum intelektual dan menjadikannya pembeda dari kaum- kaum lainnya bahwa mahasiswa selalu tercatat namanya sebagai tinta emas perjuangan bangsa ini. Siapa yang tidak mengenal tokoh- tokoh besar seperti Soe Hok Gie, Dr. Sutomo atau bahkan Bung Karno yang notabenenya adalah para petinggi dimasanya.

Idealisme dan mahasiswa
Sebuah adat dari masa lalu hingga kini bahwa pemuda (mahasiswa) adalah tokoh penggerak perubahan. “karena lembar sejarah selalu mencatat nama- nama pahlawan muda, termasuk mahasiswa dalam sejarah peradaban bangsa ini”. Mencatatkan mahasiswa sebagai elemen terpenting kebangkitan.
1908
1908 dalah tahun dimana awal mula pergerakan mahasiswa terdengar. Di tahun ini sekelompok mahasiswa STOVIA mendirikan sebuah perkumpulan Budi Utomo, yang merupakan sebuah tindak penolakan awal, aksi nyata mereka terhadap system kolonialisme Belanda
1928
Sejarah berlanjut dengn terus mencatat mahasiswa, pemuda sebagai tokoh utamanya.  Saat pembentukan PPPI di tahun 1926, yang bertujuan untuk menghimpun seluruh mahasiswa Indonesia dan lebih menyuarakan insiprasi. Hinggga terealisasi dengan adanya kongres pemuda II yang akhirnya menghasilkan sumpah pemuda.
1945
Sebuah moment atau bisa dibilang periode terpenting dalam sejarah bangsa ini.  Dan lagi- lagi disini peran mahasiswa pemuda lah yang sangat vital.  Dimana pemuda dengan pikiran idialisnya mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memplokramirkan kemerdekaan bangsa. Hingga akhirnya mereka membuat sebuah gerakan bawah tanah dan menculik Soekarno Hatta ke Rangkasdengklok untuk memberikan tekanan agar pemplokramiran berlangsung secepatnya.
1966
Perlawanan kaum intelek mahasiswa, terhadap PKI. Dimana saat itu kita mengenal sosok mahasiswa dengan kekentalan idealismenya, Soe Hok Gie. Seorang tokoh yang menjadi panutan aktivis mahasiswa hingga kini.  Sepenggal kata yang menginspirasi “ lebih baik terasingkan dari pada hidup dalam kemunafikan”
1974
Pada periode ini, justru para mahasiswa berkonfrontasi dengan pihak militer yag dianggap sebagai alat penindas rakyat.  Gelombang perlawanan yang diawali saat kenaikan hargga bahan bakar minyak (BBM) yang dianggap menyengsarakan rakyat. Dan opini akan ketegasan terhadap para koruptor.
1998
Atau saat era orde baru, serangkain acara heroic yang lagi – lagi mencatat nama mahasiswa di dalamnya. Saat gejolak krisis moneter telah membuat kondisi perekonomian Indoensia terguncang hebat. Saat dollar tembus lebih dari Rp 17.000. Hal yang sungguh diluar dugaaan dan pergerakan mahasiswa saat itu diawali dengan 20 mahasiswa UI yang mendatangi gedung MPR/DPR. Dan menolak dengan tegas pidato pertangggung jawaban presiden. Saat itu kondisi diperburuk dengan naiknya BBM hingga 71 %. Kerusuhan terjadi dimana- mana, seperti kerusuhan di Medan yang setidaknya memakan 6 orang korban  jiwa. Kemudian peristiwa cimanggis yang berlangsng tanggal 7 dan 8 Mei saat bentrokan antara mahasiswa dan aparat yang terjadi di fakultas teknik Universitas Jayabaya tak bisa terelakan lagi. Dan sedikitnya ada 52 orang luka- luka yang harus dilarikan ker RS. Jayabaya serta 1 orang korban jiwa. Keadanan semakin memanas hingga akhirnya pada tanggal 19 Mei 1998 mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR/MPR dan memaksa presiden Soeharto turun dari jabatannya. Namun semua belum usai, karena mereka masih menganggap bahwa Habibie merupakan antek dari orde baru. Perlawananpun terus berlanjut hingga menjelang akhir tahun yakni ketika siding istimewa MPR digelar. Tindakan membabi buta para aparat militerpun saat itu telah mengorbankan 17 orang  dan ratusan lainnya luka berat. Peristiwa reformasi inilah yang menjadi catatan kelam bangsa ini. Yang telah menumpahkan darah mereka yang berjuang untuk bangsa ini.  Yang menjadi sebuah lilin digelapnya malam, yang menjadi sebuah titik cerah di Indonesia kedepannya dengan kebebasan berpendapat dan lain hal lainnya.
Catatan sejarah memperlihatkan bahwa dengan kemahirannya dalam menjalankan fungsi sebagai Intellectual Organic, mahasiswa telah berhasil menumbangkan rezim Orde Baru dan menghantarkan Indonesia kedalam suatu era yang saat ini sedang bergulir, yakni: “Orde Reformasi“.

Sebuah adat yang bergejolak pada jiwa mahasiswa dengan idiealismenya, bahwa mahasiswa selalu tercatat menempatkan dirinya di setiap perubahan historik bangsa ini.




Mahasiswa dan Realita

Idealisme dan realisme adalah kesatuan yang utuh, bagai mata uang yang takkan berlaku bila satu bagiannya hilang. Dan inilah syrat pergerakkan mahasiswa. Namun terkadang sebuah idealitas terkesampingkan oleh kerja nyata di lapangan. Tak semua elemen mahasiswa menyadari akan peranannya. Hingga akhirnya menimbulkan disjungsi. Suatu problemmatika yang memang kita hadapi di depan mata. Adat, bisa saja menjadi sejarah belaka yang diakibatkan karena ketidak pahamannya, atau karena keinginan dan kepeningan yang “menina bobokan”. Yang menggeser nilai atau tugas Mahasiswa dari hakikatnya. Pada kenyataannya, tak semua elemen mahasiswa mengerti akan peranannya. Bisa kita lihat bahwa tidak semua mahasiswa tak mau bersusah payah memajukan atau mepertahankan adat atau kebiasaan bahwa mahasiswa selalu mencatatkan namanya dengan tinta emas dalam sejarang heroic perubahan bangsa ini.
Pada kenyataannya banyak mahasiswa yang hanya kuliah pulang, kuliah nongkrong., atau ekstremnya untuk kuliah dengan baik dan benar pun masih dipertanyakan. Ya, itu memang tak bisa dipungkiri lagi. Sebuah kultur atau background mungkin juga mempengaruhi sebagai factor eksternal. Sebuah kata mahasiswa yang lebih condong akan suatu hal yang instan. Tak jarang kita temui kebiasaan mahasiswa yang dapat dikatakan telah melakukan korupsi, seperti menyontek saat ujian. Belum lagi masalah moral yang menambahkan catatan kelam ini.
Dari tinjauan yang telah dilakukan, bisa diambil kesimpulan bahwa mereka tak tau perananya hingga bersifat apatis. Maka karena itu, sebuah penanaman nilai- nilai sebagai seorang “mahasiswa” harus dilakukan. Penanaman ini seharusnya bisa dimaksimalkan saat mahasiswa baru menginjakan kakinya di kampus (OSPEK). Mengapa disni ada kata dimaksimalkan? Hal ini karena dari tinjauan lapangan ditemukan dalam beberapa kasus, bahkan yang saya rasakan sendiri ketika OSPEK penanaman nilai- nilai itu tidak terlalu ditonjolkan. Selain penanaman sebagai mahasiswa yang kurang dimaksimalkan, penjagaan terhadap nilai- niai inipun kurang diperhatikan. Ini bisa dilihat dari tidak adanya tindak lanjut atau follow up setelah kegiatan ospek berakhir. Bila ada pun itu hanya berjalan sesaat saja. 
Sebuah pekerjaan rumah untuk kita semua para agent of change, untuk merangkul kawan- kawan memaknai peranan mahasiswa.Sudah saatnya pula, mahasiswa menegaskan untuk tidak terlalu terlaru- larut dalam sejarah, meskipun dengan tetap mengakui bahwa mereka dalah anak- anak yang tumbuh dibawah asuhan sejarah.
Dalam perjalanan bangsa kita selama kurang lebih 100 tahun terakhir sejak kebangkitan nasional, selama 85 tahun terakhir sejak sumpah pemuda, selama 68 tahun terakhir sejak kemerdekaan, ataupun selama 15 tahun terakhir sejak reformasi, telah banyak kemajuan yang telah kita capai, tetapi masih jauh lebih banyak lagi yang belum dan mesti kita kerjakan. “Saking” banyaknya permasalahan yang kita hadapi, terkadang orang cenderung larut dalam keluh kesah tentang kekurangan, kelemahan, dan ancaman-ancaman yang harus dihadapi yang seolah-olah tidak tersedia lagi jalan untuk keluar atau solusi untuk mengatasi keadaan.Penting bagi kita semua, terutama kaum muda Indonesia, membiasakan diri yaitu untuk mengerjakan apa saja yang semestinya kita kerjakan guna memperbaiki keadaan dan meningkatkan produktifitas kita sebagai bangsa dan negara. Setiap anak bangsa perlu bertekad melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing melebihi apa yang seharusnya dikerjakan, dengan hanya mengambil hak tidak melebihi hak yang memang seharusnya diterima. Waktunya beraksi kawan, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal terkecil, dan mulai dari sekarang. Hal yang memang terus harus kita perjuangkan. HIDUP MAHASISWA!!!

Kepada para pemuda yang merindukan lahirnya kejayaan…

Kepada umat yang tengah kebingungan di persimpangan jalan…

Kepada pewaris peradaban yang kaya raya,yang telah menggoreskan catatan membanggakan di lembar sejarah umat manusia…
(Hasan Al-Banna)


Sumber Referensi
Evyta A.RU, 2005, “Gerakan Mahasiswa Antara Idealis dan Realitas”
Juliatmoko Ronawan dkk, 2011, “Makalah Peranan Mahasiswa Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara”

0 komentar:

Posting Komentar