
Mahasiswa
tentu kata yang dekat dengan
kita. Karena mahasiswa adalah "aku". Definisi mahasiswa diambil dari suku kata
pembentuknya. Maha dan Siswa, atau pelajar yang paling tinggi levelnya. Tentunya
sebagai seorang pelajar tertinggi, mahasiswa sudah terpelajar, sebab mahasiswa telah
melalui proses pendewasaan yang tinggal menyempurnakan pembelajarannya hingga
menjadi manusia terpelajar yang paripurna. Lalu apa sebenarnya tujuan mahasiswa? apa sebenarnya
harapan dari pelajar tertinggi itu? Tentu seorang mahasiswa diharapkan
menguasai konsep dari pembelajaran
yang dipilih, mengaplikasikan serta mengembangkannya.
Namun jangan lupakan pula peranan mahasiswa dalam pergerakan bangsa ini.
Mahasiswa berperan sebagai agent of change, social control serta iron stock
yang sangat berpengaruh untuk perubahan Indonesia tercinta ini.
Beribacara tentang Indonesia, Indonesia
adalah negeri yang begitu indah, negeri yang tatkala itu disebut sebagai
syurganya dunia oleh president mesir. Negeri
yang terkenal dengan sopan santun dan gotong royongnya. Negri yang tulus, luhur
dan penuh suka cita. Negri
yang kaya akan flora dan faunanya. Serta negri yang begitu subur. Sebagaimana
mengutip dari lirik lagu KoesPloes bahwa “ini
lautan bukan kolam susu kain dan jala saja cukup tuk hidupimu”. Sepenggal lirik yang menandakan begitu
indahnya negri ini. Namun,
itu hanya sebuah kisah masa lalu. Kini ibu kita pertiwi tengah menangis
menyaksian negeri ini. Sungguh ironis ketika menyaksikan tawuran pelajar yang
merajalela, atau kasus korupsi yang tak kunjung- kunjung usai. Lalu sekarang
pertanyaannya, siapakah yang mampu menghapuskan air mata ibu pertiwi? Tidak lain dan tidak bukan adalah kita kawan. Kita
sebagai pemuda (mahasiswa) yang mampu mengubahnya. Sebagaimana jargon yang tak asing lagi di
telinga kita “Jika bukan kita siapa lagi? Siapa lagi jika bukan kita?”
Karena
kaum muda Indonesia (khususnya mahasiswa) adalah masa depan bangsa. Nilai suatu
bangsa dapat dilihat dari kualitas pemuda (mahasiswa) nya. Jika pemuda nya baik, maka baik
pulalah negaranya, dan begitu pula sebaliknya. Karena pemuda (mahasiswa) adalah pilar kebangkitan bangsa.
Sebuah
adat yang selalu lahir dari kata mahasiswa. Suatu ciri khas yang dimiliki oleh kaum intelektual dan
menjadikannya pembeda dari kaum- kaum lainnya bahwa mahasiswa selalu tercatat
namanya sebagai tinta emas perjuangan bangsa ini. Siapa yang
tidak mengenal tokoh- tokoh besar seperti Soe Hok Gie, Dr. Sutomo atau bahkan Bung Karno yang notabenenya
adalah para petinggi dimasanya.
Idealisme dan mahasiswa
Sebuah
adat dari masa lalu hingga kini bahwa pemuda (mahasiswa) adalah tokoh penggerak
perubahan. “karena lembar sejarah selalu mencatat nama- nama pahlawan muda,
termasuk mahasiswa dalam sejarah peradaban bangsa ini”. Mencatatkan mahasiswa
sebagai elemen terpenting kebangkitan.
1908
1908
dalah tahun dimana awal mula pergerakan mahasiswa terdengar. Di tahun ini
sekelompok mahasiswa STOVIA mendirikan sebuah perkumpulan Budi Utomo, yang
merupakan sebuah tindak penolakan awal, aksi nyata mereka terhadap system
kolonialisme Belanda
1928
Sejarah
berlanjut dengn terus mencatat mahasiswa, pemuda sebagai tokoh utamanya. Saat pembentukan PPPI di tahun 1926, yang
bertujuan untuk menghimpun seluruh mahasiswa Indonesia dan lebih menyuarakan
insiprasi. Hinggga terealisasi dengan adanya kongres pemuda II yang akhirnya
menghasilkan sumpah pemuda.
1945
Sebuah
moment atau bisa dibilang periode terpenting dalam sejarah bangsa ini. Dan lagi- lagi disini peran mahasiswa pemuda
lah yang sangat vital. Dimana pemuda
dengan pikiran idialisnya mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera
memplokramirkan kemerdekaan bangsa. Hingga akhirnya mereka membuat sebuah
gerakan bawah tanah dan menculik Soekarno Hatta ke Rangkasdengklok untuk memberikan tekanan
agar pemplokramiran berlangsung secepatnya.
1966
Perlawanan
kaum intelek mahasiswa, terhadap PKI. Dimana saat itu kita mengenal sosok
mahasiswa dengan kekentalan idealismenya, Soe Hok Gie. Seorang tokoh yang
menjadi panutan aktivis mahasiswa hingga kini.
Sepenggal kata yang menginspirasi “ lebih baik terasingkan dari pada
hidup dalam kemunafikan”
1974
Pada
periode ini, justru para mahasiswa berkonfrontasi dengan pihak militer yag
dianggap sebagai alat penindas rakyat.
Gelombang perlawanan yang diawali saat kenaikan hargga bahan bakar
minyak (BBM) yang dianggap menyengsarakan rakyat. Dan opini akan ketegasan
terhadap para koruptor.
1998
Atau
saat era orde baru, serangkain acara heroic yang lagi – lagi mencatat nama
mahasiswa di dalamnya. Saat gejolak krisis moneter telah membuat kondisi
perekonomian Indoensia terguncang hebat. Saat dollar tembus lebih dari Rp
17.000. Hal yang sungguh diluar dugaaan dan pergerakan mahasiswa saat itu
diawali dengan 20 mahasiswa UI yang mendatangi gedung MPR/DPR. Dan menolak
dengan tegas pidato pertangggung jawaban presiden. Saat itu kondisi diperburuk
dengan naiknya BBM hingga 71 %. Kerusuhan terjadi dimana- mana, seperti
kerusuhan di Medan yang setidaknya memakan 6 orang korban jiwa. Kemudian peristiwa cimanggis yang
berlangsng tanggal 7 dan 8 Mei saat bentrokan antara mahasiswa dan aparat yang
terjadi di fakultas teknik Universitas Jayabaya tak bisa terelakan lagi. Dan
sedikitnya ada 52 orang luka- luka yang harus dilarikan ker RS. Jayabaya serta
1 orang korban jiwa. Keadanan semakin memanas hingga akhirnya pada tanggal 19
Mei 1998 mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR/MPR dan memaksa presiden
Soeharto turun dari jabatannya. Namun semua belum usai, karena mereka masih
menganggap bahwa Habibie merupakan antek dari orde baru. Perlawananpun terus
berlanjut hingga menjelang akhir tahun yakni ketika siding istimewa MPR
digelar. Tindakan membabi buta para aparat militerpun saat itu telah
mengorbankan 17 orang dan ratusan
lainnya luka berat. Peristiwa reformasi inilah yang menjadi catatan kelam
bangsa ini. Yang telah menumpahkan darah mereka yang berjuang untuk bangsa
ini. Yang menjadi sebuah lilin
digelapnya malam, yang menjadi sebuah titik cerah di Indonesia kedepannya
dengan kebebasan berpendapat dan lain hal lainnya.
Catatan
sejarah memperlihatkan bahwa dengan kemahirannya dalam menjalankan fungsi sebagai
Intellectual Organic, mahasiswa telah berhasil menumbangkan rezim Orde Baru dan
menghantarkan Indonesia kedalam suatu era yang saat ini sedang bergulir, yakni:
“Orde Reformasi“.
Sebuah
adat yang bergejolak pada jiwa mahasiswa dengan idiealismenya, bahwa mahasiswa
selalu tercatat menempatkan dirinya di setiap perubahan historik bangsa ini.

Mahasiswa dan Realita
Idealisme
dan realisme adalah kesatuan yang utuh, bagai mata uang yang takkan berlaku
bila satu bagiannya hilang. Dan inilah syrat pergerakkan mahasiswa. Namun
terkadang sebuah idealitas terkesampingkan
oleh kerja nyata di lapangan. Tak semua
elemen mahasiswa menyadari akan peranannya. Hingga akhirnya menimbulkan
disjungsi. Suatu problemmatika yang memang kita hadapi di depan mata. Adat,
bisa saja menjadi sejarah belaka yang diakibatkan karena ketidak pahamannya, atau karena keinginan
dan kepeningan yang “menina
bobokan”.
Yang menggeser nilai atau tugas Mahasiswa dari hakikatnya. Pada kenyataannya,
tak semua elemen mahasiswa mengerti akan peranannya. Bisa kita lihat bahwa tidak semua mahasiswa tak mau bersusah payah memajukan atau
mepertahankan adat atau kebiasaan bahwa mahasiswa selalu mencatatkan namanya
dengan tinta emas dalam sejarang heroic perubahan bangsa ini.
Pada
kenyataannya banyak mahasiswa yang hanya kuliah pulang, kuliah nongkrong., atau ekstremnya untuk
kuliah dengan baik dan benar pun masih dipertanyakan. Ya, itu memang tak bisa dipungkiri lagi.
Sebuah kultur atau background mungkin juga mempengaruhi sebagai factor eksternal.
Sebuah kata mahasiswa
yang lebih condong akan suatu hal yang instan. Tak jarang kita temui kebiasaan
mahasiswa yang dapat dikatakan telah melakukan korupsi, seperti menyontek saat ujian. Belum lagi masalah moral yang
menambahkan catatan kelam ini.
Dari tinjauan yang telah dilakukan, bisa diambil
kesimpulan bahwa mereka tak tau perananya hingga bersifat apatis. Maka karena
itu, sebuah penanaman nilai- nilai sebagai seorang “mahasiswa” harus dilakukan.
Penanaman ini seharusnya bisa dimaksimalkan saat mahasiswa baru menginjakan
kakinya di kampus (OSPEK). Mengapa disni ada kata dimaksimalkan? Hal ini karena
dari tinjauan lapangan ditemukan dalam beberapa kasus, bahkan yang saya rasakan
sendiri ketika OSPEK penanaman nilai- nilai itu tidak terlalu ditonjolkan.
Selain penanaman sebagai mahasiswa yang kurang dimaksimalkan, penjagaan
terhadap nilai- niai inipun kurang diperhatikan. Ini bisa dilihat dari tidak
adanya tindak lanjut atau follow up setelah kegiatan ospek berakhir. Bila ada
pun itu hanya berjalan sesaat saja.
Sebuah
pekerjaan rumah untuk kita semua para agent of change, untuk merangkul kawan-
kawan memaknai peranan mahasiswa.Sudah saatnya pula, mahasiswa menegaskan untuk
tidak terlalu terlaru- larut dalam sejarah, meskipun dengan tetap mengakui bahwa
mereka dalah anak- anak yang tumbuh dibawah asuhan sejarah.
Dalam
perjalanan bangsa kita selama kurang lebih 100 tahun terakhir sejak kebangkitan
nasional, selama 85 tahun terakhir sejak sumpah pemuda, selama 68 tahun
terakhir sejak kemerdekaan, ataupun selama 15 tahun terakhir sejak reformasi,
telah banyak kemajuan yang telah kita capai, tetapi masih jauh lebih banyak
lagi yang belum dan mesti kita kerjakan. “Saking” banyaknya permasalahan yang
kita hadapi, terkadang orang cenderung larut dalam keluh kesah tentang
kekurangan, kelemahan, dan ancaman-ancaman yang harus dihadapi yang seolah-olah
tidak tersedia lagi jalan untuk keluar atau solusi untuk mengatasi
keadaan.Penting bagi kita semua, terutama kaum muda Indonesia, membiasakan diri
yaitu untuk mengerjakan apa saja yang semestinya kita kerjakan guna memperbaiki
keadaan dan meningkatkan produktifitas kita sebagai bangsa dan negara. Setiap
anak bangsa perlu bertekad melaksanakan tugas dan kewajiban masing-masing
melebihi apa yang seharusnya dikerjakan, dengan hanya mengambil hak tidak
melebihi hak yang memang seharusnya diterima. Waktunya
beraksi kawan, mulai
dari diri sendiri, mulai dari hal terkecil, dan mulai dari sekarang. Hal yang
memang terus harus kita perjuangkan.
HIDUP MAHASISWA!!!
Kepada para pemuda yang merindukan lahirnya
kejayaan…
Kepada umat yang tengah kebingungan di persimpangan jalan…
Kepada pewaris peradaban yang kaya raya,yang telah menggoreskan catatan
membanggakan di lembar sejarah umat manusia…
(Hasan Al-Banna)
Sumber Referensi
Evyta A.RU, 2005, “Gerakan Mahasiswa Antara Idealis dan
Realitas”
Juliatmoko Ronawan dkk, 2011, “Makalah Peranan Mahasiswa
Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara”














0 komentar:
Posting Komentar