Senin, 28 Januari 2013

UJIAN



“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami janganlah Engkau menghukum kami bila kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang- orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak sanggup memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang- orang kafir”. (QS 2: 286)

Sebagai seorang manusia yang menjalani lika liku kehidupan tentu tak akan lepas dengan "ujian". Banyak orang yang beranggapan bahwa ujian adalah saat- saat buruk saja. Seperti terkena musibah, merugi atau hal lain sejenisnya. Tapi ternyata itu merupakan sebuah kesalahan persepsi. Karena pada hakikatnya ujian adalah segala hal dalam kehidupan ini. Sebagaimana jatuhnya daun ke permukaan tanah saja merupakan kehendakNYA. Begitu pula dengan segala kehidupan kita. Kita adalah actor- actor utama dalam kehidupan yang tentunya akan diperhatikan apakah kita bisa bermain baik sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. Seperti yang dikatakan Arif Dasyat dalam trainer motivasinya.
“hidup ini ujian, semua tentang hidup ini adalah ujian, ujian untuk mengaktifkan potensi yang tuhan titipkan kepada kita, ada potensi yang menguatkan kualitas kemuliaan diri kita, ada potensi yang melemahkan kualitas kemuliaan diri kita, kedua potensi itu aktif saat kita member respon terhadap sesuatu yang terjadi, respon syukur dan sabar atau respon mengeluh, menyalahkan. Kita tau dimana kualitas diri saat kita merespon sesuatu yang terjadi kepada diri kita”
Ujian, proses kehidupan yang tentunya akan menaikkan kualitas kita sebagai hamba Allah SWT, berat atau ringannya tentu berbeda setiap individu. Semakin tinggi kualitas seseorang tentu ujiannya pun semakin tinggi. Karena Allah Swt tak akan memberikan ujian diluar kemampuan hambanya. Karena itu pula rasanya tak ada alasan untuk mengeluh, atau bahkan menyerah dalam menjalani samudra kehidupan.  Sebagaimana dalam sebuah hadis
"sahabat bertanya Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”





Nikmat
Ujian dalam hal baik bisa kita sebut sebuah nikmat, tentu kita telah mendapatkan nikmat yang tak terhingga dari Allah SWT. Namun faktanya kebanyakan orang tak menyadarinya, kita seringkali mengeluh, dan terus merasa kurang. Sebuah respon yang diharapkan ketika mendapatkan nikmat tentulah bersyukur. Bersyukur atas segala nikmat dalam kehidupan yang telah diberikanNYA
Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ
Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667).

Dari hadist tersebut sudah jelas bahwa kita harus bersyukur, namun permasalahannya adalah bagaimana kita bisa mensyukuri rizki (nikmat) yang banyak.  Rizeki (nikmat) yang Allah Swt yang terus Allah berikan saja sering kali terlupa.  Maka karena itu kita harus sering- sering bermuhasabah. Mengingat kembali nikmat – nikmat yang telah diberikan serta mensyukurinya,
Ibnul Qayyim sendiri mengatakan bahwa nikmat itu ada 3 macam.
Pertama, adalah nikmat yang nampak di mata hamba.
Kedua, adalah nikmat yang diharapkan kehadirannya.
Ketiga, adalah nikmat yang tidak dirasakan.
Ibnul Qoyyim menceritakan bahwa ada seorang Arab menemui Amirul Mukminin Ar Rosyid. Orang itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin. Semoga Allah senantiasa memberikanmu nikmat dan mengokohkanmu untuk mensyukurinya. Semoga Allah juga memberikan nikmat yang engkau harap-harap dengan engkau berprasangka baik pada-Nya dan kontinu dalam melakukan ketaatan pada-Nya. Semoga Allah juga menampakkan nikmat yang ada padamu namun tidak engkau rasakan, semoga juga engkau mensyukurinya.” Ar Rosyid terkagum-kagum dengan ucapan orang ini. Lantas beliau berkata, “Sungguh bagus pembagian nikmat menurutmu tadi.” (Al Fawa’id, Ibnul Qayyim, terbitan, Darul ‘Aqidah, hal. 165
Itulah nikmat bahwa nikmat tak selamanya berupa materi, melainkan keimanan kita pun merupakan sebuah nikmat yang patut kita syukuri.



Musibah
Bila diatas telah disebutkan bahwa ujian yang baik berupa nikmat, maka musibah adalah ujian yang bersifat buruk.
”Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, karena Kami hendak memberi cobaan kepada mereka, siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya.” (QS Al- Kahfi [18] : 7)
Sama halnya dengan nikmat musibah pun bertujuan untuk mendekatkan seorang hamba pada rabbNYA. Bila musibah itu datang bersabarlah karana pada hakikatnya tak ada ujian yang diberikan Allah melebihi kemampuan hambanya.
Ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah :
Pertama, orang yang menganggap bahwa musibah adalah azab kepadanya. Sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh.
Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa. Ia tidak pernah menyerahkan apa-apa yang menimpanya kecuali
kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Ketiga, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan takwanya. Orang yang seperti ini selalu tenang serta percaya
bahwa dengan musibah itu, Allah Azza wa Jalla menghendaki kebaikan bagi dirinya.

“Orang-orang beriman itu memang sangat mengherankan seua perkaranya serba baik, dan tak ada seprang pun yang seperti orang yang mukmin. Apabila dianugrahi kesenangannya ia bersyukur, dan apabila tertimpa musibah, ia selalu sabar. Hal inilah yang menjadikan dia selalu dalam keadaan baik (Hadits riwayat Muslim).
Karena itu janganlah lupa mnyertakan syukur dan sabar dalam menjalani kehidupan ini ^_^

Sumber Referensi
Al Qur'an dan Hadits
http://islamiwiki.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar