Rabu, 06 Maret 2013

Setiap Kita Adalah Pemimpin & Setiap Pemimpin Akan Dimintai Pertanggungjawabannya

"Setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya"

Berbicara tentang seorang pemimpin, bericara tentang kepemimpinan, rasanya sudah lebih dari cukup berreferensi pada Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Teringat akan kisah perang mutah dimana tatkala itu umat muslim berperang melawan bangsa romawi dengan perbandingan pasukan yang sungguh fantastis, 200.000 bangsa romawi melawan 3000 pasukan umat muslim. Tatkala itu Rasulullah saw menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima perangnya. Namun ternyata Rasulullah Saw tidak hanya mengangkat Zaid bin Haritsah, tetapi 3 panglima sekligus yakni Zaid in Haritsah, Jafar bin abi thalib dan Abdullah bin Rawamah.

Kisah heroik dimulai di perang ini, dimana Zaid bin Haritsah Syahid dengan 52 sabetan di dadanya. Kemudian panji dan komando di pegang oleh Jafar bin abi thalib. Tidak kalah heroik bahkan tatkala tangan Jafar bin abi thalib di tebas, ia tetap memegangnya dengan tangn kirinya. Setelah tangan kirinya di tebas, ia tetap mempertahankan panji dengan pangkal lengan kanannya, Setelah panggkal tangan kananya ditebas, ia pun tetap mempertahankan panji dengan pangkal lengan kirinya. Hingga akhirnya Jafar bin abi tholib pun syahid. Lantas setelah itu Abdullah bin rawamahlah yang memegang komando dan memegang panji. Hingga akhirnya ia syahid.

Namun kisah pertempuran ini belumlah usai. Ketika tiga pemimpin perang, 3 panglima perang umat muslim telah syahid, ketika  chaos terjadi. Maka seketika itu Tsabit bin Arqom mengangkat panji umat muslim seraya bertanya pada para sahabat. "Siapakah yang berhak memegang panji ini? Siapakah yang akan memimpin pasukan ini?" Singkat cerita hingga akhirnya Kholid bin Walid lah yang akhirnya maju memegang panji dan memegang komando.

Dalam risalahnya disebutkan bahwa dalam perang itu Kholid membawa 9 pedang, dan 9 pedangnya pun habis. Tatkala Kholid bin Walid memegang komando, saat malam ia menggunakan strateginya. Dimana obor diperbanyak, hingga menimbulkan kesan adanya pasaukan bantuan. Kemudian ia menukar pasukan kanan ke kiri, kiri ke kanan, depan ke belakang dan belakang ke depan. Hingga saat keesokan harinya tatkala perang berlanjut kembali pasukan umut muslim seperti benar- benar mendapatkan bala bantuan pasukan tambahan yang membuat moral pasukan romawi turun.

Inilah yang ingin saya angkat dalam kisah ini dimana kita bisa mengambil ibroh atau pembelajaran, bahwasanya :

  • Adanya Regenerasi kepemimpinan
  • Moral dan semangat juang
  • Persiapan seorang "pemimpin"
Misi dakwah bukanlah misi yang bisa diwariskan dalam satu kepengurusan, melainkan akan di teruskan oleh para pemegang tongkat estafet dakwah ini.
Dan sejatinya karena setiap kitaa adalah pemimpin, teringat akan perkataan Umar bin Khatab
"Aku takut ketika suatu hari umat membutuhkan seorang pemimpin namun orang tersebut tidak siap, & aku lebih takut bila orang tersebut adalah aku"
"Kita bukan bernafsu untuk menjadi pemimpin, Namun kita harus bernafsu untuk senantiasa meyiapkan diri menjadi pemimpin, Sehingga tatkala panggilan untuk memimpin tertuju pada kita, maka kita siap menerimanya.

#Restiya maulana
Jakarta, Kamis 7 Maret 11:45
@home sweet home
Yang tengah mempersiapkan diri

Minggu, 17 Februari 2013

Mahasiswa Sebagai Penggores Tinta Emas Perjuangan



Mahasiswa tentu kata yang dekat dengan kita. Karena mahasiswa adalah "aku". Definisi mahasiswa diambil dari suku kata pembentuknya. Maha dan Siswa, atau pelajar yang paling tinggi levelnya. Tentunya sebagai seorang pelajar tertinggi, mahasiswa sudah terpelajar, sebab mahasiswa telah melalui proses pendewasaan yang tinggal menyempurnakan pembelajarannya hingga menjadi manusia terpelajar yang paripurna. Lalu apa sebenarnya tujuan mahasiswa? apa sebenarnya harapan dari pelajar tertinggi itu? Tentu seorang mahasiswa diharapkan menguasai konsep dari pembelajaran yang dipilih, mengaplikasikan serta  mengembangkannya. Namun jangan lupakan pula peranan mahasiswa dalam pergerakan bangsa ini. Mahasiswa berperan sebagai agent of change, social control serta iron stock yang sangat berpengaruh untuk perubahan Indonesia tercinta ini. 

Senin, 28 Januari 2013

UJIAN



“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami janganlah Engkau menghukum kami bila kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang- orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak sanggup memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang- orang kafir”. (QS 2: 286)

Sebagai seorang manusia yang menjalani lika liku kehidupan tentu tak akan lepas dengan "ujian". Banyak orang yang beranggapan bahwa ujian adalah saat- saat buruk saja. Seperti terkena musibah, merugi atau hal lain sejenisnya. Tapi ternyata itu merupakan sebuah kesalahan persepsi. Karena pada hakikatnya ujian adalah segala hal dalam kehidupan ini. Sebagaimana jatuhnya daun ke permukaan tanah saja merupakan kehendakNYA. Begitu pula dengan segala kehidupan kita. Kita adalah actor- actor utama dalam kehidupan yang tentunya akan diperhatikan apakah kita bisa bermain baik sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. Seperti yang dikatakan Arif Dasyat dalam trainer motivasinya.
“hidup ini ujian, semua tentang hidup ini adalah ujian, ujian untuk mengaktifkan potensi yang tuhan titipkan kepada kita, ada potensi yang menguatkan kualitas kemuliaan diri kita, ada potensi yang melemahkan kualitas kemuliaan diri kita, kedua potensi itu aktif saat kita member respon terhadap sesuatu yang terjadi, respon syukur dan sabar atau respon mengeluh, menyalahkan. Kita tau dimana kualitas diri saat kita merespon sesuatu yang terjadi kepada diri kita”
Ujian, proses kehidupan yang tentunya akan menaikkan kualitas kita sebagai hamba Allah SWT, berat atau ringannya tentu berbeda setiap individu. Semakin tinggi kualitas seseorang tentu ujiannya pun semakin tinggi. Karena Allah Swt tak akan memberikan ujian diluar kemampuan hambanya. Karena itu pula rasanya tak ada alasan untuk mengeluh, atau bahkan menyerah dalam menjalani samudra kehidupan.  Sebagaimana dalam sebuah hadis
"sahabat bertanya Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”


Rabu, 16 Januari 2013

Mengapa pembinaan/kaderisasi?


Kaderisasi pasti bukan suatu hal baru dalam keberlangsungan kita. Tapi mungkin banyak yang masih bertanya- tanya kenapa harus ada kaderisasi dalam setiap organisasi?  Sebegitu pentingkah kaderisasi untuk organisasi?

Kaderisasi dalam suatu organisasi bisa diibaratkan sebagai jantung dalam tubuh. Jantung adalaah organ yang begitu central dalam keberlangsungan hidup, menyalurkan dan menjadi penopang. Begitu pula kaderisasi dalam organisasi. Rasanya sulit dibayangkan organisasi tanpa kaderisasi dapat berjalan dengan efisein atau bahkan dapatkah hidup?. Mengutip perkataan Bung Karno “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam”. Ya tentu proses ini dilakukan sejak dulu kala, dan dari kalimat tersebut kita bisa sama- sama menyamakan persepsi bahwa tujuan kaderisasi adalah menyiapkan kader- kader tangguh para calon pemimpin bangsa di masa depan. Ini merupakan hal yang benar- benar harus mendapatkan perhatian tersendiri, karena tanpa proses kaderisasi yang kita lakukan, secara tidak langsung sama saja kita telah memotong tongkat estafet yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu kita. Dan untuk menguatkan gerakan perubahan yang dikehendaki tentu sebuah tempat atau wadah yang memberikan pembinaan dan pengkaderan.

Ma’rifatullah


Ma’rifatullah
Subbab mahabah (Cinta)

Berbicara tentang cinta pasti tak akan da habisnya untuk dibahas. Apalagi pembahsan cinta kepada Allah (Ma’rifatullah).

Cinta sendiri dapat dibagi menjadi 2 bagian. 2 bagian itu dalah:
As Sya’iyah (Syariat) yang berarti sebuah cinta yang baik, cinta tanpa hawa nafsu sebagaimana (Qs 48:29) atas dasar iman.
Dan yang kedua adalah tidak syariat yakni suatu hal yang mengedepankan nafsu (Qs :14)

Disini perbedannya hanyalah yang satu didasari atas keimanan dan satunya didasari oleh sebuah nafsu.

Tapi antara Iman dan Syahwat ada spersamaannya yaitu tanda-tanda cinta.

Karena Tanda- tanda cinta itu sendiri yakni :
Sering disebut ( 8:2)
Kagum (1:1)
Berkorban (9:61)
Cemas
Mengharap
Menanti

We Are Agent Of Change



We are agent of change adalah sebuah paradigma yang begitu membuming di kalangan para aktivis dan mahaiswa. Ya ini adalah salah satu peran pemuda. 2 kata agent dan change disini membuktikan betapa sentralnya peran kita sebagai pemuda dalam memajukan Negara ini.

Berbicara mengenai Negara ini, Indonesia adalah Negara yang kaya akan sumber daya alamnya, sebagaimana kita mengetahui bahwa Indonesia pernah dikatakan sebagai syurga dunia oleh pemerintahan mesir tatkala itu .Negara yang dikenal dengan keramah tamahannya, dan Negara yang dikenal dengan kesuburan tanahnya sebagaimana dalam kutipan dari lagu koes ploes Kolam Susu "kail dan jala saja cukup tuk hidupimu". Namun semua hanyalah sebuah kisah masa lalu, kini Negara kita tercinta sedang di ambang duka. Ibu kita pertiwi pun menagis dibuatnya. Siapakah yang bisa mengubah Negara ini? Siapakah yang bisa memajukan serta memakmurkan Negara ini?

Pemuda itulah sebuah jawabannya, Bagaimana kita sebagai pemuda memiliki peran yang luar biasa, maju atau terpuruknya suatu Negara begitu dipengaruhi akan moral pemuda nya. Karena pemuda adalah pemimpin. Pemimpin yang kan menunjukkan jalan kemenangan. Pemimpin yang harus terus berlatih mempersiapkan kepemimpinannya.


Rabu, 08 Agustus 2012

Refitalisasi Azzam yang hilang


Lagi- lagi inilah kisah perjuangan…
Sebuah sandaran utuk masa depan…
Ketika azzam ini masuk dalam fase penurunan…

Saat diri ini rapuh dan tak tau jalan mana yang harus ditapaki…
Saat rasa letih ini begitu deras menggerogoti  jiwa yang sepi…
Saat semua impian itu tertutupi dengan hal2 yang tak berarti…

Yaa inilah dinamika kehidupan, sebuah lika liku dalam perjuangan...
Saat grafik memasuki fase penurunan…
Entah faktor apa yang membangkitkan...
Yang jelas ada pihak oposisi dari sebuah perenungan…
Akan Refitalisasi dari azam yang hilang…
Yang menyokong  tuk terus bergerak, tetap bangun lagi dan lagi. Tidak hanya diam, menonton,  dan berpangku tangan…


Terus bergerak Never Give Up, Keep Fight… Karena hakikatnya memang perjuangan tak kan pernah mengenal kata henti…